Selasa, 29 Mei 2012

Beda, sama, beda, sama, kenapa kita harus beda dan harus sama, apakah harus?


Kehidupan manusia banyak dipengaruhi oleh bagaimana manusia tersebut berinteraksi dengan Lingkungannya, dalam artian bahwa ada dua kutub pengaruh yang terjadi  bahwa bagaimana manusia bisa menerima lingkungannya dan bagaimana manusia dapat diterima oleh lingkungannya. Posisi manusia yang dipengaruhi kedua kutub tadi  juga menentukan bagaimana dia dapat bertindak terhadap lingkungan yang mengitarinya maupun terhadap dirinya sendiri.
Lingkungan dasar manusia secara social adalah keluarga, tetangga, sebaya, kerja, masyarakat dlsb. Dalam menghadapi lingkungan yang berbeda, maka manusia juga dihadapkan pada dua kutub dasar, yaitu apakah manusia akan memberlakukan suatu perlakuan yang sama terhadap lingkungan tersebut, ataukah memberlakukan hal yang berbeda terhadap lingkungan tersebut. Demikian juga dari sisi lingkungannya sendiri, apakah lingkungan tersebut akan memberlakukan manusia secara sama ataukah secara berbeda.
Sama, beda, sama, beda, dst, lah yang melahirkan dorongan bagaimana perlakuan-perlakuan terjadi. Dorongan ini adalah berupa Nilai kehidupan yang dianut. Makanya seringkali terjadi bahwa mengapa seseorang berbeda atau merasa berbeda, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan nilai yang dianutnya. Perbedaan atau persamaan bukanlah suatu pernyataan benar dan salah, yang artinya bahwa berbeda dapat benar dan dapat juga salah, tergantung dari sudut mana manusia itu melihatnya.
Selama proses tersebut, manusia dibekali Tuhan oleh 3 kekuatan besar yang tidak boleh diabaikan yaitu Akal (intellectuality), kalbu (emotion) dan Jasmani (Fisiology) . Ketiga kekuatan besar tersebut tumbuh sejalan dengan interaksi manusia dengan lingkungannya. Seseorang dapat memiliki akal yang sehat, tapi bila tidak ditopang oleh kalbu dan jasmani yang sehat, niscaya orang tersebut belumlah dapat dikatakan sempurna. Selama proses tersebut, ada dua faktor penopang mengapa manusia menetapkan sebuah nilai untuk dianut/sebagai acuan. Kedua factor tersebut adalah Kerangka Pemikiran (frame of reference) dan Kerangka Pengalaman (frame of experience). Seringkali ketika seseorang akan melakukan tindakan, seseorang bertanya “dulunya bagaimana?”, dalam hal ini orang tersebut telah memunculkan atau memanggil kembali “memori” pengalaman yang mengacu pada aspek situasi dan kondisi (sikon) yang melingkupi permasalahan tersebut. Pada kondisi-kondisi inilah sering terjadi ke “kaku” an. Ada yang cenderung begitu mudahnya menerima perubahan, ada yang dapat mencerna dengan baik perubahan tersebut dan ada pula yang cenderung menentang setiap perubahan yang terjadi. Penentangan dan penerimaan terhadap perubahan sendiri juga  bukan suatu hal benar dan salah dan juga banyak penyebabnya, apakah karena trauma, tantangan  dan bahkan kadangkala oleh ketakutan yang berlebihan. Joseph Addison menyebutkan, ” Orang yang sudah nyaman di lingkungannya , biasanya memusuhi perubahan”. Apakah anda salah satu diantaranya ? Perubahan sendiri pada dasarnya merupakan sebuah sintesa dan antitesa yaitu perubahan alami tidak akan terjadi bila manusia dan lingkungan  tidak menghendakinya. Perubahan tidaklah perlu ditakutkan, kecuali anda tergolong dalam apa yang diungkapkan oleh Joseph Adiston diatas. Soeharto (“Bapak Pembangunan”)  mengingkari nilai dan kenyataan bahwa dunia menumbuhkan dan tumbuh dari perubahan itu. Jatuhlah ia, tapi akankah nilai yang dianutnya akan jatuh kembali mengacu pada aspek “beda, sama, beda, sama” tersebut diatas. Suatu saat tidakkah menutup kemungkinan ia akan dianggap sebagai pahlawan oleh jaman yang “berbeda”?.
Akal, kalbu, dan jasmani haruslah “selaras”, dari manakah awalnya? Seseorang dilahirkan ke dunia dengan penuh pengharapan akan menjadi orang yang “baik”, “berbudi luhur”, dll dan sekali lagi dll. Tapi akankah dapat dibayangkan bila harapan tersebut bisa terpenuhi bila selama proses mengandung, sang ibu mengalami tekanan psikologis yang berat, jasmani yang tidak sehat dan bahkan emosi yang tidak stabil. Akankah pengharapan itu terpenuhi ketika si anak lahir untuk makan saja orang tua mereka tidak sanggup memenuhinya atau tidak ada contoh yang baik dari kedua orang tuanya. Akankah pengharapan tersebut bisa terpenuhi bila si anak menginjak dewasa hari-harinya penuh diwarnai pertengkaran orang tua, hidup dalam lingkungan teman yang tidak ber ”pembelajaran”, maling, jambret, tawuran, narkoba dll. Akankah pengharapan tersebut dapat terpenuhi bila ketika ia bekerja, ia hidup dalam lingkungan pejabat dan rekan yang penuh dengan korupsi, intrik, klik-klikan, dan laporan ABS (asal bapakne seneng). Ingat akal, kalbu, dan jasmani merekam itu semua dalam memori pikiran, hati dan badan  manusia. Disadari dan tidak disadari rekaman-rekaman tersebut akan muncul baik diminta atau tidak. Janganlah kita menyalahkan seseorang yang tidak se nilai dengan kita, karena nilai yang dianut diperoleh dari cara rekam-merekam tersebut. Bisa terjadi orang tersebut salah merekam (benar salahnya merekam dan yang direkam). Atau juga kita sendiri salah merekam apa yang direkam oleh orang lain. Bila hal ini ingin dihindari, maka apakah yang harus diperbaiki? Perbaikilah Proses Pembentukan Memori Dasar.
Berdasarkan masukan pada saat pelatihan, Proses pembentukan Memori dasar mengikuti langkah-langkah sebegai berikut :
0 – 3 Tahun adalah fase :
a.   Menyimpan, pada fase ini hati-hatilah karena pada kurun ini anak anda, disadari atau tidak, disengaja atau tidak akan merekam semua yang dirasakan melalui panca inderanya. Pada kurun ini akan muncul proses penentangan. Kebohongan, ketidakbijaksanaan akan diuji oleh pertanyaan-pertanyaan lugu mereka.
b.   Identifikasi, fase ini si anak sudah mengenali bentuk-bentuk tertentu yang dirasakan oleh panca inderanya.
c.   Re-call, fase ini si anak sudah mulai memanggil ulang memori mereka, apa yang disampaikan oleh kedua orang tuanya akan mulai dimunculkan sedikit demi sedikit.
d.   Persepsi, fase ini persepsi sedikit demi sedikit telah muncul.
3 – 5 tahun adalah fase perkembangan persepsi tahap 1
5 – 7 tahun adalah fase perkembangan persepsi tahap 2
7 – 9 tahun adalah fase perkembangan persepsi tahap 3
11, 15, 17, 19, 21, 25 tahun adalah fase kedewasaan (maturasi)
Dalam fase-fase tersebut akan terlihat apakah proses rekam-merekam itu tepat. Apakah cara merekamnya dan yang direkamnya benar. Ini menjadi perhatian yang bersangkutan dan lingkungannya.
Bagaimana kalau sudah salah merekam? Ini tentunya memerlukan suatu therapy khusus, yang bersangkutan harus lebih sering diajak berkomunikasi dengan isi yang sesuai dengan fase-fase pembentukan memori diatas. Peran orang tua sangat besar pengaruhnya dalam proses ini karena dalam proses therapy ini factor penerimaan dan penolakan sangat mendominasi. Oleh karenanya kedekatan jarak fisik maupun jarak psikologis haruslah terus ditata dengan si anak yang bersangkutan. Bila tidak terjadi kedekatan tersebut, keterbukaan hati dan perasaan tidak akan terjadi, sehingga apapun isi dari yang dikomunikasikan sangat sulit untuk dapat dicerna dan dapat menggerakkan sebuah tindakan yang saling menguntungkan.
Apakah manfaat pengetahuan ini dalam dunia kerja? Seseorang cenderung apriori bahwa pandangannya adalah yang benar dan paling benar. Ketika orang tersebut menemukan dan berinteraksi dengan orang yang sama akan cenderung terjadi ketidakcocokan, ujung-ujungnya adalah terjadinya konflik, saling caci, menyalahkan baik secara terang-terangan, ataupun bergerilya membangun opini untuk mencari dukungan. Akankah ini memberikan aspek sinergitas bagi terciptanya kerjasama untuk mencapai tujuan bersama, kemungkinan besar tidak. Sejauh pemikiran, konflik dan pertentangan hanyalah berdampak pada siapa yang menang, siapa yang kalah, siapa yang pinter siapa yang guoblok, siapa yang jagoan siapa yang kroco dan seabrek siapa yang..siapa yang.. Kelemahan dasar karena kita menutup kuping kita rapat-rapat, tidak mau dan gengsi untuk mendengarkan, dan bahkan menganggap bahwa orang lain tidak memiliki “mulut” yang mampu bersuara seperti apa yang kita miliki. “seek first to understand and then to be understood” kata covey, sangat relevan untuk dicatat. Bagaimana kita paham diri kita kalau kita tidak mencoba memahami orang lain katanya. Dengan menolak untuk mendengarkan berarti kita menolak untuk melakukan perekaman. Menolak perekaman untuk kepentingan diri sendiri berarti juga menolak merekam apa yang telah direkam oleh orang lain. Ini adalah bentuk apriori dari prilaku dan sikap individu. Bila hal ini terjadi dalam dunia kerja maka prioritas pekerja bukan menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya  melainkan menyelesaikan masalah-masalah yang muncul dari interaksinya sendiri. Sungguh tidak berguna, dan menyedot perhatian dan tenaga yang cukup besar. Jadi beda, sama, beda, sama dst. bukanlah masalah benar dan salah tapi masalah mau menerima dan tidak menerima yang lahir dari mau mengurangi ego dan tidak mengurangi ego masing-masing. Love is live, live is love, 19 Sept 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar